3 Teknik untuk Menguasai Rasa Syukur Setiap Hari
5 mins read

3 Teknik untuk Menguasai Rasa Syukur Setiap Hari

Rasa syukur Itu perasaan yang luar biasa, bukan? Begitu luar biasa, bahkan saya ingin menyimpannya dalam botol dan meminumnya setiap kali saya merasa cemas, gugup, atau marah.

Meskipun penting untuk merasakan rasa syukur setiap hari, sangatlah sulit untuk melakukannya di saat-saat yang paling kita butuhkan—seperti saat kita menghadapi tantangan atau rintangan yang tampaknya tidak dapat diatasi. Di saat-saat seperti ini, kita hanya berpikir tentang tugas yang ada di depan kita; kita lupa betapa tidak pentingnya tantangan ini di hari, minggu, atau bulan mendatang.

Pada saat-saat seperti inilah kita harus paling banyak mempraktikkan rasa syukur. Sains telah menunjukkan kepada kita bahwa otak tidak dapat mengalami dua emosi sekaligus . Secara keseluruhan, itu adalah berkah sekaligus kutukan, tetapi dalam kasus ini, itu adalah berkah. Mengapa? Dengan menumbuhkan rasa syukur sebagai respons pertama otak, reaksi kita terhadap pengalaman negatif akan menjadi positif (misalnya, kedamaian, cinta, kebahagiaan, kelimpahan)—bukan ketakutan, kecemasan, atau kemarahan.

Pertanyaannya adalah: Bagaimana kita menumbuhkan rasa syukur?

Berikut tiga proses mental yang telah saya gunakan tahun ini untuk menumbuhkan rasa syukur saya. Proses-proses tersebut telah membantu saya lebih dari sekadar menuliskan hal-hal yang saya syukuri (pendekatan tradisional).

Teknik 1: Rasa Syukur Pagi Nona Val

Michael Gervais memandu salah satu podcast favorit saya, Finding Mastery . Dalam episode terbarunya, ia memandu juara nasional NCAA 7x dan pelatih senam wanita UCLA, Valorie Kondos, yang lebih dikenal sebagai Miss Val.

Nona Val percaya bahwa rasa syukur adalah teknik yang paling penting untuk dilatih. Seperti yang sering dikatakannya, “Menjadi pesimis adalah jalan keluar yang mudah.”

Bahkan ketika didiagnosis menderita kanker, dia membalik keadaan dan biasanya mengatakan kepada pesenamnya, “Saya bisa pergi ke spa kemoterapi.” Gila, kan? Tidak baginya. Dia bersyukur atas kesempatan untuk sembuh.

Teknik Miss Val untuk mempraktikkan rasa syukur itu sederhana, tetapi efektif. Teknik itu dimulai saat ia bangun tidur: “Ketika saya bangun di pagi hari, saya sangat bersyukur karena menjalani hari baru, bahkan sebelum sesuatu terjadi.”

Ia kemudian melapisi rasa syukur ini dengan pikiran-pikiran terima kasih yang lebih spesifik. Misalnya, saat berjalan ke kamar mandi, ia hanya berfokus pada rasa syukur atas hal-hal di sekitarnya. Dalam perjalanan kembali ke kamar tidur, proses ini berlanjut—dan seterusnya ke dapur. Tak lama kemudian, ia telah melatih pikirannya untuk bersandar pada rasa syukur yang positif daripada pikiran-pikiran yang pesimis atau negatif.

Intinya: Biarkan pikiran pertama Anda di hari itu adalah rasa syukur. Pikiran itu tidak harus rumit; bisa sesederhana, “Saya sangat bersyukur memiliki apartemen dengan pemanas dan listrik,” atau “Saya sangat bersyukur bisa makan malam dengan saudara saya tadi malam.”

Intinya adalah melatih pikiran Anda untuk melihat dunia dengan sudut pandang rasa syukur—sikap positif naluriah yang menghancurkan pikiran negatif.

Teknik 2: Rasa Syukur Seperti Anak Kecil ala James Altucher

Penulis buku terlaris New York Times, pengusaha, pembawa acara podcast, dan jutawan berkali-kali James Altucher telah digambarkan oleh Forbes sebagai pria paling menarik di dunia.

Musim gugur lalu, Tom Alaimo dan saya mengundang James ke podcast kami, dan James berbagi salah satu tekniknya untuk mempraktikkan rasa syukur.

Aneh memang, tetapi efektif. Saya menggunakannya saat berjalan di bandara atau berjalan di sepanjang jalan di New York City.

Inti ceritanya: Bayangkan setiap orang yang berpapasan di jalan saat mereka masih anak-anak. Hal ini menciptakan keterhubungan dengan orang tersebut, dan rasa syukur bahwa kita semua adalah manusia yang rentan di planet yang gila ini bersama-sama.

Ini mengubah perspektif Anda dari isolasi dan survivalisme individu menjadi fokus pada peluang melalui komunitas.

Saya tahu ini aneh, tetapi saya menyukai teknik ini. (Oh, dan berikut ini tautan ke podcast bersama James jika Anda ingin mempelajari lebih lanjut.)

Teknik 3: Rasa Syukur Stoa terhadap Segala Hal

Mari kita kembali ke masa lalu untuk teknik ketiga ini—beberapa ribu tahun yang lalu dan zaman Stoa.

Ryan Holiday, penulis favorit saya, telah menulis tentang  teknik rasa syukur Stoic ini berkali-kali.

Singkatnya, kaum Stoa bersyukur atas segala hal yang terjadi pada mereka. Mereka tahu bahwa mereka tidak dapat memengaruhi keadaan eksternal, tetapi hanya dapat mengendalikan reaksi mereka terhadap keadaan tersebut. Jadi, mereka memilih untuk bersyukur.

Saya ingin teknik ini dipahat di dinding kantor saya karena sangat efektif. Jika Anda bersyukur atas segalanya, Anda akan kehilangan rasa takut terhadap hal yang tidak diketahui. Jauh di lubuk hati, Anda tahu bahwa Anda akan menghadapi apa pun yang menghadang, dan Anda akan memanfaatkannya sebaik mungkin.

Tidak diragukan lagi bahwa kita membutuhkan lebih banyak rasa syukur. Namun, berapa banyak dari kita yang mempraktikkan rasa syukur dalam kehidupan sehari-hari?

Dengan ketiga teknik ini, itu akan menjadi jauh lebih mudah.

Apakah ada praktik bersyukur lain yang Anda lakukan secara rutin? Beri tahu saya di kolom komentar di bawah ini!

Luangkan waktu di pagi hari untuk bersyukur dan merenung dengan menggunakan Rutinitas Pagi yang berfokus pada Anda ini.

Daftar sekarang  untuk mendapatkan panduan Rutinitas Pagi GRATIS kami—cara #1 untuk meningkatkan produktivitas, energi, dan fokus untuk hari-hari yang menguntungkan. Digunakan oleh ribuan pemimpin industri kebugaran, bisnis, dan keuangan untuk mengungguli pesaing sambil menyediakan waktu bagi orang-orang yang benar-benar penting.  Pelajari lebih lanjut di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *